Friday, May 9, 2014

Seri Orang Terkaya di Indonesia (2) – Hashim Djojohadikusumo

Halo Sobat  Studentpreneur! Seri orang terkaya di Indonesia kali ini akan membahas tentang Hashim Djojohadikusumo, seorang pengusaha sukses yang menempati posisi orang terkaya ke 39 di Indonesia versi Majalah Forbes. Jumlah total kekayaan dari Hashim adalah 750 Juta Dollar, atau kalau dirupiahkan mencapai 7,5 Trilliun!! Bagaimana cara Hasim memperoleh kekayaannya tersebut? Sobat Studentpreneur pasti akan belajar tips menjadi pengusaha sukses dengan membaca profil beliau.

Hashim Djojohadikusumo yang saat ini berusia 58 tahun, merupakan anak bungsu dari Soemitro Djojohadikusumo, Begawan ekonomi Indonesia. Ya, beliau juga merupakan saudara kandung dari Prabowo Subianto, calon presiden dari Partai Gerindra. Bakat dari Bapak Soemitro Djojohadikusumo di bidang ekonomi ini benar-benar menurun ke Hashim. Sejak SMP, Hashim telah disekolahkan di luar negeri. Mengenyam pendidikan SMP di London, Hashim melanjutkan jenjang SMA di Singapura dan masa kuliah di Amerika, tepatnya Pmonona College, Claremont University dengan jurusan ilmu politik dan ekonomi.

Bakat dan pendidikan ekonomi yang beliau kuasai langsung dipraktekkan di bank investasi Prancis sebagai analis keuangan. Petualangan bisnis Hashim dimulai dengan Indo Consult yang berhasil dia kembangkan dengan sangat pesat. Berikutnya, Semen Cibinong juga berhasil diakuisisi oleh Hashim, bersamaan dengan penanaman saham di Bank Niaga dan Bank Kredit Asia. Dengan berbagai bisnis yang berlari kencang, Hashim menjadi salah satu konglomerat di Indonesia.

Namun, sebagaimana pebisnis lainnya, Hashim juga sempat mengalami kegagalan. Ketika Indonesia diterpa oleh krisis moneter, tepatnya di sekitar tahun 1998, banyak sekali usaha Hashim Djojohadikusumo yang bangkrut. Keputusan dramatis pun diambilnya. Hashim memilih untuk pergi ke Inggris dan menjalankan bisnisnya di sana. Berat memang, namun insting bisnis Hashim menunjukkan hasilnya. Setelah 9 tahun berjuang keras di Inggris, beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan bahkan menyelamatkan perusahaan Prabowo Kiani Kertas yang berhutang 1,9 Trilliun di Bank Mandiri. Perusahaan tersebut kini telah menjadi miliknya seutuhnya.

Hashim Djojohadikusumo juga melebarkan sayap ke bisnis perkebunan, konsesi hutan, batubara, serta migas di seluruh Indonesia. Melalui berbagai investasi cerdas Comexindo International yang dia miliki, terutama dalam bidang minyak sawit dan karet, Hashim Djodjohadikusumo resmi masuk sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Hebat bukan?

Sobat Studentpreneur, kegiatan beliau tidak berhenti disitu saja. Setelah sukses menunjukkan kepiawaiannya di bidang bisnis serta politik, Hashim Djojohadikusumo juga mendirikan Yayasan Arsari Djojohadikusumo. Yayasan tersebut bergerak di bidang sosial dalam membantu anak-anak yang kurang beruntung pendidikannya. Dikelola secara professional, yayasan tersebut telah berhasil membantu banyak kaum miskin di Indonesia. Nama Arsari sendiri merupakan akronim anak-anak Hashim Djojohadikusumo, yaitu Aryo, Sara, dan Indra.

Terakhir, apa pelajaran yang bisa kita petik dari Hashim yang merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia ini? Pertama, jangan pernah remehkan dampak pendidikan. Hashim menjadi sangat cerdas karena mendapatkan pendidikan kualitas tinggi sejak kecil. Kedua, jangan pernah menyerah ketika mengalami masalah. Keberhasilan Hashim bangkit dari krisis moneter telah menunjukkan sifat pantang menyerah yang luar biasa. Terakhir, ingatlah bahwa hidup ini pasti ada akhirnya. Itulah kenapa Hashim mendirikan yayasan sosial yang tentunya selain membantu sesama, juga merupakan bekal beliau di akhirat.
Ada lagi yang Sobat Studentpreneur pelajari dari sosok Hashim Djojohadikusumo?

- Sumber: http://studentpreneur.co/seri-orang-terkaya-di-indonesia-2-hashim-djojohadikusumo

Seri Orang Terkaya di Indonesia (3) – Sudhamek AWS

Halo Sobat Studentpreneur!! Kita tiba di seri ketiga dari 40 seri orang terkaya di Indonesia. Jujur saya selaku Editor-In-Chief Majalah Studentpreneur sangat ingin menulis seri ketiga yang akan membahas tentang Bapak Sudhamek ini. Dari 40 orang terkaya di Indonesia, saya hanya pernah bertemu dengan dua orang, yaitu Bapak Ciputra (atau biasa saya panggil dengan Engkong Ci) serta Bapak Sudhamek. Bedanya, kalau Engkong Ci berperan sebagai inspirator entrepreneurship nomor satu bagi saya, maka Bapak Sudhamek ini adalah inspirator untuk berbuat baik dalam bisnis serta mencintai Negara bagi saya. Masih segar dalam ingatan saya ketika suatu hari saya berdebat dengan salah seorang Vice President Kauffman Foundation (tidak enak kalau sampai sebut nama), Pak Sudhamek membela pendapat saya. Beliau setuju dengan saya bahwa seorang entrepreneur harus mempunyai mimpi besar, berbuat baik, serta bertindak nasionalis untuk negaranya.

Beliau bernama lengkap Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, lahir di pada tanggal 20 Maret 1956 di Rembang, Jawa Tengah. Pak Sudhamek memulai pendidikannya dengan sangat lambat, nyaris tidak naik kelas ketika SD. Beliau termasuk anak yang sering di-bully sehingga tidak maksimal dalam belajar. Namun ketika menyadari bahwa nasib ada di tangannya sendiri, beliau bangkit dan bahkan menyelesaikan kuliah ganda di Universitas Satya Wacana. Beliau lulus dengan nilai yang sangat baik di jurusan ekonomi pada tahun 1981 dan jurusan hukum pada tahun 1982.

Petualangan Pak Sudhamek dimulai ketika dia lulus dari Satya Wacana. Meskipun lahir di keluarga pengusaha pengolahan kacang kulit yang setidaknya di pasar lokal sudah cukup terkenal, beliau malah memilih jalan terjal dengan bekerja di luar dan memulai dari sangat awal. Beliau bergabung dengan Gudang Garam, sebuah perusahaan rokok besar di Indonesia untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang nantinya akan sangat berguna di perusahaannya kelak. Bekerja keras ditambah cepatnya Pak Sudhamek menimba ilmu, dalam waktu 8 tahun beliau sudah dipercaya untuk menjadi Presiden Direktur di PT. Trias Santosa Tbk, anak perusahaan Gudang Garam.

Merasa petualangannya di Gudang Garam sudah cukup, beliau memutuskan untuk pindah ke Djuhar Group dan bertindak sebagai Executive Director. Beliau juga sempat menjabat sebagai wakil presiden di PT. Posnesia Stainless Steel. Barulah pada tahun 1994 Pak Sudhamek memutuskan kembali membantu keluarganya di Tudung Group (cikal bakal GarudaFood). Almarhum Bapak Darmo Putro yang merupakan ayah Pak Sudhamek selalu mengatakan bahwa “biarpun kecil, jadilah tuanmu sendiri dalam hidup ini.”

Beliau menekankan pentingnya kultur dalam membangun GarudaFood. Kalau perusahaan itu mempunyai kultur yang baik, maka sebuah perusahaan akan berperforma baik pula. Dalam sebuah kesempatan berbincang dengan beliau, Pak Sudhamek juga selalu menekankan pentingnya membangun aspek spiritual dalam perusahaan. Moralitas karyawan yang baik akan memberikan hasil yang baik pula untuk perusahaan. Beliau berpendapat bahwa manusia merupakan pemegang peran terbesar dalam segala proses bisnis. Seorang pemimpin hebat harus mampu menyentuh aspek manusia semua orang yang dipimpinnya dengan cerdas dan arif. Dengan kemampuan spiritual yang ditambahkan dengan kompetensi, maka perusahaan akan menjadi lebih dinamis dalam bertumbuh.

Selain faktor SDM, beliau juga berhasil memodernkan GarudaFood menggunakan semua pengalaman kerja sebelumnya. Contoh inovasi yang beliau tekankan adalah keberhasilan GarudaFood mendirikan perusahaan distribusi. Kini GarudaFood bukan hanya perusahaan makanan, namun juga distribusi produk makanan. Dari dulunya hanya fokus dalam produk kacang, kini telah menmghasilkan 200 produk makanan dan minuman. Brand utama yang dibangun adalah Kacang Garuda dan Gery. Pada puncaknya, GarudaFood juga menjalin kerjasama dengan brand besar dari Jepang, Suntory.

Kini, dengan besarnya GarudaFood, Pak Sudhamek merasa sudah saatnya bagi beliau untuk pensiun. Beliau merasa bahwa sinar matahari pemimpin baru GarudaFood bisa tertutup apabila beliau masih aktif. Dalam sebuah proses suksesi yang berhasil, beliau menyerahkan posisi sebagai CEO GarudaFood pada Harianto Atmadja. Kini Pak Sudhamek yang telah berusia 56 tahun memilih untuk menjadi mentor GarudaFood, terutama dalam menjaga budaya spiritual dan inovasi. Berdasarkan data Majalah Forbes, Pak Sudhamek berada di posisi ke 38 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai 760 juta dollar atau 7,6 Trilliun Rupiah.

What we must learn from Mr. Sudhamek? Well, saya pribadi belajar tentang makna pentingnya menjaga budaya perusahaan dan menjadi pribadi yang lebih religius. Di awal karir, selalu memilih mana yang bisa memberikan anda pengalaman lebih, jangan terlalu berfokus pada uang dahulu. Percayalah bahwa pengalaman tersebut akan sangat berguna kedepannya. Terakhir, ini pendapat pribadi saya. Pak Sudhamek sangat humble!! Ingatlah untuk terus bersikap sederhana meskipun anda sukses. Nah, bagaimana dengan anda, Sobat Studentpreneur?

- Sumber: http://studentpreneur.co/seri-orang-terkaya-di-indonesia-3-sudhamek

Thursday, May 8, 2014

Seri Orang Terkaya di Indonesia (4) – Husain Djojonegoro

Saya cukup yakin kalau di Sobat Studentpreneur pasti pernah atau malah sering menggunakan produk-produk dari ABC Group dan Orang Tua Group. Mulai dari baterai ABC, minuman seperti Nu Green Tea dan kratingdaeng, sampai snack ringan seperti wafer Tango. Kalau ingin disebutkan detailnya, saya berani jamin banyak sekali produk-produk ABC dan Orang Tua Group yang kita konsumsi dan gunakan sehari-hari. Tanpa perlu disebutkan lagi, gambaran tadi bisa sedikit menjelaskan seberapa besar pengaruh dari ABC dan Orang Tua Group. Nah Sobat Studentpreneur, siapakah sebenarnya sosok dibalik kesuksesan group konglomerasi besar ini?


Beliau adalah Husain Djojonegoro, orang terkaya di Indonesia nomor 37 versi Majalah Forbes. Dengan mengguritanya jaringan bisnis ABC dan Orang Tua Group, beliau tercatat mempunyai kekayaan sebesar 780 Juta Dollar atau sekitar 7,8 Trilliun Rupiah! Jumlah yang tidak bisa dianggap remeh, bukan? Tidak hanya dari total kekayaan, pengaruh dari Husain Djojonegoro sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Bayangkan apabila sehari saja anda tidak bisa memakai produk dari ABC dan Orang Tua Group, bisa dijamin hidup anda akan menjadi kacau.

Lahir pada tahun 1949, Husain Djojonegoro ketika berusia 15 tahun telah bekerja sebagai salesman untuk perusahaan ayahnya. Bekerja sangat baik, beliau resmi diangkat menjadi direktur ABC di tahun 1968, saat itu beliau masih berusia 19 tahun. Masih sangat muda, beliau benar-benar menjalankan perusahaan peninggalan orang tua dan pamannya tersebut dengan energy tinggi. Meskipun awalnya perusahaan tersebut adalah perusahaan yang menjual anggur kesehatan, prospek besar dalam industri baterai membuat perusahaan melakukan perubahan.

Kemudian di tahun 1975, Husain Djojonegoro telah berhasil membuat ABC menguasai pasar baterai Indonesia. Beliau pun mulai melirik industry consumer goods. Dimulai dengan produk keperluan toilet seperti sikat gigi dan pasta gigi merek Formula. Berbagai produk makanan kaleng juga diluncurkan pada tahun 1978. Salah satu produk consumer goods yang berhasil menarik hati masyarakat adalah bisnis saus dan sirup, yang apabila ditotal omzet tahunannya mencapai trilliunan rupiah. Sobat Studentpreneur bisa cermati untuk kasus saus, hampir semua saus di restoran Indonesia menggunakan merk milik ABC.

Tidak hanya melayani pasar lokal, Husain Djojonegoro juga merambah pasar ekspor. Core business dari ABC masih produk baterai, dan mereka berhasil mengekspor baterai ABC ke lebih dari 50 negara, dengan berbagai merk yang berbeda. Group ABC juga melayani permintaan produksi dari luar negeri dengan sistem tol manufacturing, atau memproduksi dengan nama merek sesuai permintaan mitranya di luar negeri. Pasar ekspor menurut data Majalah Swa, telah menyumbangkan sekitar 40% pendapatan baterai ABC.

Kehebatan dari konglomerasi ABC dan Orang Tua Group adalah produknya yang mempunyai variasi sangat banyak dan memasuki hampir semua industri consumer good. Hal ini menyebabkan mereka tidak bergantung pada 1-2 merek saja. Apabila ada sebuah merek yang berperforma buruk, kerugian dari merek tersebut masih bisa ditutupi oleh keuntungan merek yang berjalan sukses. Dengan portfolio produk sangat besar, tentunya posisi konglomerasi milik Husain Djojonegoro ini sangat vital dalam mempengaruhi konsumen mereka di Indonesia ataupun luar negeri.

Nah Sobat Studentpreneur, apa yang bisa kita pelajari dari Husain Djojonegoro? Pertama-tama adalah kehebatan beliau memulai untuk bekerja di usia yang sangat muda. Ketika kita di usia 15 tahun masih sibuk bermain dengan teman, beliau sudah menjadi salesman. Ketika di usia 19 kita hanya sibuk berpacaran, beliau sudah menjadi direktur sebuah perusahaan. Memulai di usia yang sangat muda juga tidak ada salahnya. Hal kedua yang bisa kita pelajari adalah selalu menyediakan plan B atau rencana cadangan. Ketika rencana utama gagal, masih ada rencana cadangan yang akan menyelamatkan kita.

Bagaimana menurut anda Sobat Studentpreneur? Pelajaran apa yang anda petik?

 - Sumber: http://studentpreneur.co/seri-orang-terkaya-di-indonesia-4-husain-djojonegoro

Seri Orang Terkaya di Indonesia (5) – Alexander Tedja

Bagi orang Surabaya, atau orang yang pernah mengunjungi Surabaya, saya berani jamin kalau pasti pernah juga mengunjungi Tunjungan Plaza. Mall legendaris dan terbesar di Surabaya bahkan Asia Tenggara ini didirikan oleh Alexander Tedja pada tahun 1986. Kini, Alexander Tedja merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan 790 Juta Dollar atau senilai 7,9 Trilliun Rupiah. Menurut Majalah Forbes, Alexander Tedja adalah orang terkaya nomor 36 di Indonesia.

Sebenarnya, Alexander jarang sekali bersentuhan dengan pers dan media. Dia hanya muncul sesekali di media untuk mengumumkan proyek prestisius baru atau  ketika anaknya menikah. Ternyata, selain Tunjungan Plaza, beliau juga membangun Menara Mandiri pada tahun 1991, Pakuwon City pada tahun 1994, serta Sheraton Surabaya Hotel dan Tower pada tahun 1996. Bahkan, Tunjungan Plaza 1-4 berhasil menjadi superblock perbelanjaan pertama di Indonesia. Pada eranya, Tunjungan Plaza sempat menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara. Praktis, Pakuwon Group berhasil menguasai jaringan perbelanjaan di Surabaya serta jaringan perumahan elit di daerah timur dan barat Surabaya.

Tidak puas hanya menjadi raja properti di Surabaya, Alexander Tedja meluaskan bisnis propertinya ke Jakarta. Beliau mengembangkan superblock Gandaria City serta Kota Kasablanka. Khusus untuk proyek Kota Kasablanka, beliau sangat yakin dengan prospeknya mengingat lokasinya yang berada di daerah perluasan Rasuna Said, Kuningan, yang juga termasuk central business district (CBD) Jakarta. Strategi beliau adalah mencari tanah yang lebih murah di sekitar pusat Rasuna Said, dan bertekad membuat center of growth yang baru. Logikanya, dengan penuhnya daerah CBD di Jakarta, maka perkembangan pusat baru tidak akan jauh-jauh dari lokasi CBD yang asli. Ketika itu terjadi, Pakuwon Group memastikan bahwa mereka telah menjadi yang terdepan.

Kemampuan Alexander Tedja dalam mengendus lokasi strategis dengan harga murah ini telah terbukti dari awal karirnya. Salah satu tips bisnis properti yang didapatkan dari beliau adalah pentingnya mendapatkan lokasi yang tepat. Ketika mulai membeli tanah untuk Tunjungan Plaza pada tahun 1982 pun, beliau membelinya dengan harga yang relatif murah. Dengan kerja keras, perusahaan pemilik Tunjungan Plaza, PT Pakuwon Jati Tbk berhasil melakukan IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham ke public pada tahun 1989. Sejak itu, beliau jadi lebih mudah dalam mendapatkan pendanaan, namun tetap menjaga naluri mendapatkan tanah murah namun strategis dalam proyek Gandaria City dan Kota Kasablanka.

Alexander Tedja juga secara agresif melebarkan bisnisnya dan membuat jaringan yang kuat dengan berbagai orang penting baik di Surabaya maupun Indonesia. Beliau terkenal dekat dengan pihak pemerintahan. Selain itu, pernikahan putrinya Irene Tedja dengan Prajna Murdaya yang merupakan anak dari Murdaya Poo telah memberinya jaringan yang sangat luas. Saat ini, Murdaya Poo tercatat sebagai orang terkaya ke 19 di Indonesia dengan total kekayaan mencapai 15 Trilliun Rupiah. Selain Irene, anak-anak Alexander yang lain juga menikah dengan anak-anak dari konglomerat di Indonesia.

Ketika diwawancarai oleh Hilda Alexander dalam sebuah kesempatan, Alexander Tedja mengungkapkan bahwa potensi pertumbuhan bisnis properti di Indonesia bisa mencapai 30% per-tahunnya. Menurut beliau, masih banyak pasar yang bisa digarap oleh pebisnis muda yang tertarik dalam bidang properti. Alexander Tedja bahkan memberikan tips bisnis properti yang menarik mengenai cara sederhana beliau mendanai proyeknya. Dalam industri properti, uang harus berputar secara cepat dan aman. Kalau bisa, 40% dari proyek didanai oleh pre-sales (penjualan awal sebelum properti dibangun) yang didapatkan, 30% dari bank, dan 30% baru modal internal perusahaan.

Nah Sobat Studentpreneur, apa yang harus kita pelajari dari Alexander Tedja dalam bisnis properti? Saya mengambil tiga kesimpulan utama. Pertama, kita harus peka dan terus mencari tanah dengan lokasi yang strategis namun harga masih miring. Selain Alexander Tedja, Pak Ciputra juga terkenal dengan ketajamannya dalam mencari tanah murah namun bernilai tinggi di kemudian hari. Kedua, jangan pernah mendanai sebuah proyek dengan 100% biaya sendiri. Selalu ingat prinsip 40-30-30 yang diajarkan oleh Alexander Tedja, 40% pre-sales dari pelanggan, 30% dari bank, dan 30% baru modal sendiri. Ketiga, jangan pernah berhenti membangun jaringan meskipun anda sudah besar sekalipun. Membangun jaringan bisa dengan berbagai macam cara, termasuk menikahkan anak seperti yang dilakukan oleh Alexander Tedja.

Pelajaran apa yang kalian petik, Sobat Studentpreneur?

- Sumber: http://studentpreneur.co/seri-orang-terkaya-di-indonesia-5-alexander-tedja

Seri Orang Terkaya di Indonesia (6) – Prajogo Pangestu

Dua momen yang mengubah hidup Prajogo adalah ketika beliau mengenal Bong Sung On dan keluarga Cendana. Seandainya Prajogo adalah seorang yang pemalu, tentunya beliau hanya akan berakhir menjadi supir angkutan Singkawang-Pontianak seumur hidupnya

Lahir dengan nama Phang Djoen Phen, atau dalam bahasa mandarin berarti “burung besar terbang tinggi menguak awan mendung”, Prajogo Pangestu benar-benar berhasil terbang tinggi dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Menurut Majalah Forbes, beliau adalah orang terkaya ke 35 di Indonesia dengan total kekayaan 800 Juta Dollar atau 8 trilliun rupiah. Saat ini Prajogo Pangestu terkenal sebagai pemilik Barito Pacific, perusahaan petrochemical, pertambangan dan energy setelah sebelumnya juga terkenal sebagai raja kayu Indonesia.

Ternyata, Prajogo Pangestu tidak terlahir di keluarga yang kaya. Justru, saking miskinnya seorang pekerja getah karet dan tukang jahit di Pasar Sungai Betung, Phang Siu On (nama ayah Prajogo), membuat Prajogo kecil hanya menyelesaikan pendidikannya sampai SMP di Nan Hua, sekolah berbahasa mandarin Singkawang. Prajogo kecil sempat merantau ke Jakarta sebelum akhirnya kembali ke Singkawang dan menjadi supir angkutan kota Singkawang-Pontianak. Pekerjaan itu membuatnya kenal dengan Bong Sun On (Burhan Uray), orang Malaysia yang berada di Indonesia, orang yang akan mengubah hidup Prajogo Pangestu selamanya.

Singkat kata, pada tahun 1969 Prajogo bekerja di PT. Djajanti Group milik Bong Sun On. Beliau ditugaskan untuk mendapatkan HPH (hak khusus yang membuat Anda boleh mengolah hutan) di Kalimantan Tengah. Karena pekerjaannya selalu memuaskan, Bong Sun On mempromosikan Prajogo Pangestu menjadi General Manager di perusahaannya yang lain, PT. Nusantara Plywood yang terletak di Surabaya. Namun tidak lama, Prajogo Pangestu memberanikan diri membeli sebuah perusahaan kecil CV Pacific Lumber dengan menggunakan uang pinjaman dari Bank BRI. Sekali lagi, hidupnya berubah.

Pacific Lumber berganti nama menjadi Barito Pacific dan berhasil mengolah 5,5 juta hektar hutan di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Maluku, dan Sumatra Selatan. Seorang raja kayu gelondongan baru telah lahir di Indonesia. Beliau juga dikenal dekat dengan Presiden Indonesia waktu itu, Soeharto. Barito Pacific sempat goyah ketika pada tahun 1980 pemerintah mengeluarkan larangan ekspor kayu gelondongan. Tidak kurang akal, Prajogo Pangestu meminta pinjaman 150 Juta Franc pada Bank di Prancis dan membangun perusahaan pengolahan kayu, cikal bakal Barito Pacific Timber.

Sejak itu, hubungan Prajogo Pangestu dengan keluarga Cendana semakin dekat. Beliau bahkan mengajak putri tertua Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau yang lebih dikenal dengan Mbak Tutut untuk mendirikan banyak perusahaan di Sumatera. Bahkan, Barito Pacific Timber saat itu sampai mempunyai 20 anak perusahaan! Tidak hanya berkolaborasi dengan Mbak Tutut, Prajogo Pangestu juga bekerjasama dengan Bambang Trihatmodjo, anak Soeharto lainnya, untuk mendirikan berbagai perusahaan dan Bank pada tahun 90an.

Prajogo Pangestu tidak berhenti meskipun berhasil berkolaborasi dengan anak presiden. Beliau juga berkolaborasi dengan pebisnis sukses Singapura, Kwok Brothers, dan bersama-sama berinvestasi di Pulau Sentosa yang kini menjadi destinasi wisata nomor 1 Singapura. Beliau juga membeli saham PT Astra Internasional yang ketika itu mendatangkan jutaan kendaraan bermotor ke Indonesia. Akhir dekade 90an, Prajogo Pangestu mempunyai lebih dari 120 perusahaan yang menggarap sector non kayu.

Terakhir, yang paling sensasional, Prajogo Pangestu berhasil meyakinkan DBS Singapura untuk meminjam uang 2 Milliar Dollar atau 20 Trilliun Rupiah dan menggunakannya untuk membeli 70% saham Chandra Asri Petrochemical Center senilai 1,05 Milliar Dollar atau 10,5 Trilliun Rupiah. Chandra Asri adalah perusahaan Petrochemical yang sangat disegani di Asia. Akuisisi ini menguatkan posisi Prajogo Pangestu sebagai salah satu macan bisnis Indonesia.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari seorang Prajogo Pangestu. Seperti biasa, Saya akan meringkasnya menjadi  3 pelajaran utama. Pertama, jangan pernah menyerah dengan keadaan Anda. Prajogo Pangestu, dan beberapa orang sukses lain yang Saya kenal, kebanyakan justru berasal dari keluarga yang miskin. Mereka bekerja sangat keras untuk mengubah jalur kehidupan. Kita yang cukup beruntung masih bisa makan tiap hari, tentu tidak boleh kalah semangat dengan mereka. Kedua, jadilah orang yang menyenangkan dan mengenal banyak orang, terutama orang penting. Dua momen yang mengubah hidup Prajogo adalah ketika beliau mengenal Bong Sung On dan keluarga Cendana. Seandainya Prajogo adalah seorang yang pemalu, tentunya beliau hanya akan berakhir menjadi supir angkutan Singkawang-Pontianak seumur hidupnya. Pelajaran ketiga sekaligus terakhir, adalah jangan segan untuk berkolaborasi dengan siapapun untuk mengembangkan bisnis Anda. Kolaborasi Prajogo tidak hanya dengan orang Indonesia, bahkan dengan Bank Prancis dan pebisnis dari Singapura. Dengan kolaborasi bisnis, maka perusahaan Anda bisa berkembang dengan sangat cepat.

- Sumber: http://studentpreneur.co/seri-orang-terkaya-di-indonesia-6-prajogo-pangestu